jam

Jumat, 02 Desember 2011

Sekelompok Mahasiswa Australia Kembangkan Kompor Berbahan Bakar Kotoran Ternak Bagi Nepal

Mengolah bahan makanan mentah agar bisa dikonsumsi adalah salah satu proses yang harus dilalui agar makanan menjadi lebih steril dan nikmat. Salah satu caranya adalah memasaknya menggunakan kompor.

Tetapi bagi masyarakat miskin di negara berkembang, bahan bakar menjadi salah satu yang harus mereka cari solusinya, selain karena deforestasi, tingginya harga bahan bakar minyak menekan tidak terjangkau oleh mereka.

Berangkat dari hal tersebut, sekelompok tim mahasiswa teknik dariUniversity of Adelaide, Australia membuat kompor yang memanfaatkan biomassa seperti limbah pertanian, seperti rumput, ranting dan sebagainya sebagai bahan bakarnya. Jika biomassa tidak bisa didapatkan, kompor tersebut juga bisa menggunakan bahan bakar kotoran ternak.

Bahan bakar kotoran ternak ini juga harus diperlakukan hingga bersifat mudah terbakar dengan menjemurnya terlebih dulu di bawah sinar matahari hingga kering.

Tragedi Kompor Gas

Sejak masa kolonial hingga era digital, rakyat selalu berada di garda depan penderitaan. Ketika negeri ini dicengkeram penjajah bangsa asing, rakyat berada di garis depan sebagai perisai bagi para pejuang kita dalam perang gerilya.
Tentu, sebelum penjajah menjangkau para gerilyawan, mereka lebih dulu menghancurkan perisai itu. Wong-wong cilik itu tumbang. Namun, dalam tarikan terakhir napasnya, mereka justru bangga karena mendapat kemuliaan jadi ”rabuk” kemerdekaan.
Kini, posisi rakyat tetap sama. Mereka tetap menjadi tumbal bagi seluruh kebijakan negara, dari soal penggusuran, mahalnya pendidikan, tidak terjangkaunya harga-harga bahan kebutuhan pokok, tingginya biaya kesehatan, sulitnya lapangan kerja, sampai soal yang paling aktual: meledaknya tabung-tabung gas kompor. Ternyata untuk yang paling elementer pun, negara kurang serius memberi rasa aman kepada rakyat. Maut ”dibiarkan” bergentayangan di dapur-dapur rakyat.


Jika di dapur personal saja rakyat tidak merasa aman, apalagi di dapur sosial, politik, ekonomi, dan budaya.
Bagi rakyat kecil, dapur merupakan garda depan kehidupan yang menentukan sejarah kehidupan. Dari dapurlah, peradaban rakyat kecil dibangun. Prinsip ”yang penting dapur tetap mengepul” telah menjadi misi suci dalam pertarungan hidup yang dilakukan dengan menjunjung fair-play. Mereka hanya makan dari tetes keringatnya.
Mereka tidak korupsi, tidak melakukan manipulasi, dan tidak kolusi atau membangun persekongkolan hitam untuk membobol kas negara. Mereka pun patuh membayar pajak. Mereka membayar lunas seluruh kebutuhannya dengan kemampuan dan integritas. Makan nasi aking campur sambal dan ikan asin sudah menjadi kemewahan bagi mereka. Karena itu, mereka sangat terbiasa dan terlatih untuk selalu bersyukur. Urip kudu prasojo lan ora perlu ngongso (hidup harus bersahaja dan tidak perlu memaksakan diri untuk memiliki banyak materi), itu prinsipnya.
Berbeda dengan kelas menengah-atas yang telah melampaui (beyond) persoalan perut, rakyat jelata tak kunjung beranjak dari persoalan mendasar itu. Ketika negara menutup rapat pintu-pintu logistiknya, rakyat jelata mengais-ngais remah-remah rezeki secara mandiri. Penghasilan Rp 20.000 sehari atau kurang, tetap mereka syukuri meskipun diam-diam mereka bingung ketika ditabrak berbagai kebutuhan yang luar biasa banyaknya.


Oven surya atau kompor tenaga surya adalah perangkat masak yang menggunakan sinar matahari sebagai sumber energi. Berhubung kompor jenis ini tidak menggunakan bahan bakar konvensional dan biaya operasinya rendah, organisasi kemanusiaan mempromosikan penggunaannya ke seluruh dunia untuk mengurangi penggundulan hutan dan penggurunan, yang disebabkan oleh penggunaan kayu sebagai bahan bakar untuk memasak.

Kompor surya dapat digunakan di luar rumah, terutama dalam situasi ketika konsumsi bahan bakar minimal atau risiko kebakaran menjadi pertimbangan penting.


Prinsip kerja

Ada berbagai jenis kompor surya. Semuanya menggunakan panas dari dan cahaya matahari untuk memasak makanan. Beberapa prinsip dasar kompor surya adalah sebagai berikut :
 1. Pemusatan cahaya matahari.
Beberapa perangkat, biasanya berupa cermin atau sejenis bahan metal/logam yang memantulkan cahaya, digunakan untuk memusatkan cahaya dan panas matahari ke arah area memasak yang kecil, membuat energi lebih terkonsentrasi dan lebih berpotensi menghasilkan panas yang cukup untuk memasak.
 2. Mengubah cahaya menjadi panas.
Bagian dalam kompor surya dan panci, dari bahan apapun asal yang berwarna hitam, dapat meningkatkan efektivitas pengubahan cahaya menjadi panas. Panci berwarna hitam dapat menyerap hampir semua cahaya matahari dan mengubahnya menjadi panas, secara mendasar meningkatkan efektivitas kerja kompor surya. Semakin baik kemampuan panci menghantarkan panas, semakin cepat kompor dan oven bekerja.
 3. Memerangkap panas.
Upaya mengisolasi udara di dalam kompor dari udara di luarnya akan menjadi penting. Penggunaan bahan yang keras dan bening seperti kantong plastikatau tutup panci berbahan kaca memungkinkan cahaya untuk masuk ke dalam panci. Setelah cahaya terserap dan berubah jadi panas, kantong plastik atau tutup berbahan gelas akan memerangkap panas di dalamnya seperti efek rumah kaca. Hal ini memungkinkan kompor untuk mencapai temperatur yang sama ketika hari dingin dan berangin seperti halnya ketika hari cerah dan panas.

Strategi memanaskan suatu barang dengan menggunakan tenaga matahari menjadi kurang efektif jika hanya menggunakan salah satu prinsip tersebut di atas. Pada umumnya kompor surya menggunakan sedikitnya dua cara atau bahkan ketiga prinsip dasar kompor surya untuk menghasilkan temperatur yang cukup untuk memasak.

Terlepas dari kebutuhan akan adanya cahaya matahari dan kebutuhan untuk menempatkan kompor surya pada posisi yang tepat sebelum menggunakannya, kompor ini tidak berbeda jauh dengan kompor konvensional. Namun demikian, salah satu kerugiannya adalah karena kompor surya umumnya mematangkan makanan pada saat hari panas, ketika orang-orang cenderung enggan memakan makanan yang panas. Bagaimanapun, penggunaan panci tebal yang lambat menghantarkan panas (seperti panci dari besi tuang/cor) dapat mengurangi kecepatan hilangnya panas dan dengan menggabungkannya dengan penggunaan pengisolasi panas, kompor dapat tetap menghangatkan makanan sampai malam hari.

KOMPOR TENAGA MATAHARI

Matahari adalah sumber energy terbesar dan utama bagi kehidupan kita, kita dapat memanen energy matahari secara cuma-cuma dan dengan teknologi yang sederhana. Indonesia sebagai negara yang terletak tepat dibawah garis katulistiwa mempunyai periode untuk memanen matahari lebih besar baik secara kuantitas maupun kualitasnya dibanding dengan kawasan yang tidak dilintasi oleh garis katulistiwa, oleh karena itu penggunaan energy matahari dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif yang paling “dekat” untuk bisa kita manfaatkan sebagai sumber energy untuk memasak sehari-hari disaat harga minyak tanah, gas dan kayu yang terus naik.Ada berbagai macam jenis kompor matahari yang dapat kita gunakan untuk “memanen” energy matahari, diantaranya;
 Box cooker, kebanyakan dari kompor matahari jenis ini digunakan oleh sector rumah tangga di India.
 Parabolic/concentrator cooker, didesain sebagai konsentrator jenis ini dapat menghasilkan temperature panas yang sangat tinggi seperti api, sehingga sangat bahaya dan membutuhkan perhatian yang ekstra dalam penggunaannya. Biasanya digunakan untuk memasak dalam skala besar, dan pengguna kompor jenis ini kebanyakan di negara China.
 Kombinasi antara parabolic cooker dengan box cooker atau sering disebut panel cooker,
kompor jenis ini yang paling banyak digunakan karena memiliki berbagai keunggulan, diantaranya adalah temperature yang dihasilkan tidak sepanas kompor parabolic sehingga relative aman, bentuknya yang flat juga aman bagi mata kita (karena biasanya kompor parabolik memantulkan cahaya matahari yang berbahaya bagi mata), mudah diproduksi dengan teknologi sederhana

Beberapa Jenis Kompor yang Perlu Dikenal


Terdapat beberapa jenis kompor yang dapat Anda pilih. Setiap pilihan mempunyai ukuran, berat, dan harga yang berbeda. Di samping itu, tentu saja fasilitas yang berbeda pula.
Beberapa jenis kompor yang tersedia di pasaran adalah:
Kompor Portabel
Kompor ini termasuk yang fleksibilasnya tinggi. Ia dapat dipasang dan dibongkar dengan mudah. Pemasangannya dilakukan dengan cara diletakkan di atas meja. Ini pula yang memudahkan pengguna membersihkan kompor secara rutin. Sementara untuk saluran gas, tersedia “colokan” untuk selang yang ada di belakang kompor.
Agar pemasangan rapi, meja dudukan (top table ) perlu dilubangi sebagai akses selang gas, sehingga selang dapat disembunyikan langsung ke bawah meja. Kompor jenis ini umumnya bertungku dua buah dengan bahan yang terbuat dari stainless steel atau enamel. Ukuran panjang: rata-rata 70cm. Anda dapat memilih jenis tungku yang mampu membuat nyala apinya berputar.
Kompor Tanam (Built in Cooker atau hob)
Ini adalah jenis kompor yang pemasangannya dilakukan dengan cara ditanam pada permukaan table top . Kompor terpasang permanen. Tentu saja penampilannya menjadi lebih rapi karena bagian permukaan kompor seperti menyatu dengan top table .
Kompor jenis ini tersedia di pasaran dengan jumlah tungku dari dua sampai empat. Tungku tersebut mempunyai kapasitas api yang berbeda, sehingga memungkinkan Anda memasak bersamaan untuk menu dengan tingkat panas yang berbeda. Ukuran panjang dari 60cm sampai 90cm.
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management